transformasi novel cinta suci zahrana ke film cinta suci zahrana, sebuah kajian ekranisasi
TRANSFORMASI NOVEL CINTA SUCI
ZAHRANA KE FILM CINTA SUCI ZAHRANA: SEBUAH KAJIAN EKRANISASI
Agung
Prasetyo
Program
Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia
Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas
Wiralodra Indramayu
Abstrak
Penelitian
ini memotivasi pengembangan karya seni yang terus berkembang dan dengan
perkembangan teknologi informasi saat ini. Satu jenis seni membutuhkan karya
seni lainnya sebagai referensi. Alih-alih naik dari satu jenis seni ke bentuk
seni lain itu permintaan oleh orang-orang di industri film adalah lebih dari
kendaraan novel menjadi sebuah film. Novel Cinta Suci Zahrana memiliki unsur
estetis yang menarik untuk dinilai. Karakter novel dibangun oleh perjalanan
pendidikan dan menjodohkan sosok Zahrana itu berbeda dengan orang tuanya.
Teori
ini digunakan untuk menganalisis struktur novel tersebut Teori struktural Cinta
Suci Zahrana, Nurgiyantoro dan Siswanto. Setelah Novel Cinta Suci Zahrana
memfilmkan banyak perubahan, di antaranya adalah alur perubahan, latar belakang
dan karakter. Rides atas pendekatan teoritis dari novel Untuk film yang
digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan teoritis yaitu wahana damardi
djoko damono dan teori transformasi Pamusuk Eneste. Pendekatan ini digunakan
untuk menyelidiki perubahan yang terjadi setelah novel itu difilmkan.
A.
Pendahuluan
1.
Latar
Belakang
Novel merupakan
bentuk karya sastra yang sekaligus disebut fiksi. Novel adalah salah satu karya
sastra bersifat kreatif imajinatif yang mengemas persoalan kehidupan manusia
secara kompleks dengan berbagai konflik, sehingga pembaca memperoleh
pengalaman-pengalaman baru tentang kehidupan. Novel dapat mengemukakan sesuatu
secara bebas, menyajikan sesuatu secara lebih banyak, lebih rinci, lebih detil,
dan lebih banyak melibatkan berbagai permasalahan yang lebih kompleks
(Nurgiyantoro,1995:11).
Novel yang
menarik perhatian pembaca biasanya menyuguhkan alur cerita yang menarik pula.
Muhardi dan Hasanuddin WS (1992:28) menyatakan alur adalah hubungan antara
suatu peristiwa atau kelompok peristiwa dengan peristiwa lain dalam novel.
Tanpa hubungan sebab akibat suatu rentetan peristiwa tidaklah dapat disebut
suatu alur. Setiap perubahan tokoh,tindakan,tempat,dan waktu pada cerita dapat
menyebabkan munculnya peristiwa baru yang disebut episode cerita. Menurut
Ensiklopedi Sastra Indonesia, episode berasal dari istilah Inggris dan
Perancis, yaitu suatu lakuan pendek sebuah karya sastra yang merupakan bagian integral
dari alur utama, tetapi jelas batas-batasnya; suatu bagian yang dapat berdiri
sendiri dalam deretan peristiwa suatu cerita.
Film adalah
gambar hidup, juga sering disebut movie. Film, secara kolektif sering
disebut sinema. Sinema itu sendiri bersumber dari kata kinematik atau gerak.
Film juga sebenarnya merupakan lapisan-lapisan cairan selulosa, biasa dikenal
di dunia para sineas sebagai seluloid. Pengertian secara harfiah film (sinema)
adalah cinemathographie yang berasal dari “cinema”, “tho”
(berasal dari kata phytos artinya cahaya) dan “graphie” (berasal
dari graph artinya tulisan, gambar, citra). Jadi pengertiannya adalah
melukis gerak dengan cahaya. Agar kita dapat melukis gerak dengan cahaya, kita
harus menggunakan alat khusus, yang biasa kita sebut dengan kamera.
Bluestone (dalam
Eneste, 1991:18) menyatakan, film merupakan gabungan dari berbagai ragam
kesenian, yaitu musik, seni rupa, drama, sastra ditambah dengan unsur
fotografi. Eneste (1991:60) menyatakan bahwa film merupakan hasil kerja kolektif
atau gotong royong. Baik dan tidaknya sebuah film akan sangat bergantung pada
keharmonisan kerja unit-unit yang ada di dalamnya (produser, penulis skenario,
sutradara, juru kamera, penata artistik, perekam suara, para pemain, dan
lain-lain). Oleh karena itu, film merupakan medium audio visual, suarapun
ikut mengambil peranan di dalamnya.
Ekranisasi,
menurut Eneste (1991:60) adalah pelayarputihan atau pemindahan sebuah novel ke
dalam film. Ekranisasi adalah suatu proses pelayarputihan atau pemindahan atau
pengangkatan sebuah novel ke dalam film. Pemindahan dari novel ke layar putih
mau tidak mau mengakibatkan timbulnya berbagai perubahan. Oleh karena itu,
ekranisasi juga bisa disebut sebagai proses perubahan bisa mengalami penciutan,
penambahan (perluasan), dan perubahan dengan sejumlah variasi.
1.
Rumusan
Masalah
1. Mendefinisi
makna dan arti Ekranisasi dari para ahli
2. Meneliti
Tranformasi Novel ke Film Cinta Suci Zahrana dg Kajian Ekranisasi.
2. Tujuan dan Manfaat
Jurnal ini di
buat khususnya untuk mengetahui apa itu Kajian Ekranisasi dan Bagaimana cara
melakukan sebuah Ekranisasi dari sebuah Karya Sastra seperti Novel ke Bentuk
Film.
Manfaat dari di
buatnya penyususnan Jurnal ini perta sebagai acuan bagi mahasiswa untuk
mengetahui tentang Kajian Ekranisasi dan penerapan Kajian Ekranisasi ini.
B.
Teori
Ekranisasi
1.
Ekranisasi
Transformasi dari karya sastra ke bentuk film dikenal
dengan istilah ekranisasi. Istilah ini berasal dari bahasa Prancis, écran yang berarti ‘layar’. Ekranisasi
adalah pelayar putihan atau pemindahan atau pengangkatan sebuah novel ke dalam
film. Eneste (1991:60–61) menambahkan yang dimaksud dengan ekranisasi adalah
pelayar putihan atau pemindahan atau pengangkatan sebuah novel ke dalam film. Pemindahan
novel ke layar putih mau tidak mau mengakibatkan timbulnya berbagai perubahan.
Oleh sebab itu
dapat dikatakan, ekranisasi adalah proses perubahan bisa mengalami penciutan,
penambahan dan perubahan dengan sejumlah variasi. Alat utama dalam novel adalah
kata-kata, segala sesuatu disampaikan dengan kata-kata. Cerita, alur,
penokohan, latar, suasana, dan gaya sebuah novel dibangun dengan kata-kata.
Pemindahan novel ke layar putih, berarti terjadinya perubahan pada alat-alat
yang dipakai, yakni mengubah dunia kata-kata menjadi dunia gambar-gambar yang
bergerak berkelanjutan. Sebab di dalam film, cerita, alur, penokohan, latar,
suasana dan gaya diungkapkan melalui gambar-gambar yang bergerak berkelanjutan.
Apa yang tadinya
dilukiskan atau diungkapkan dengan katakata, kini harus diterjemahkan ke dunia
gambar-gambar.
Eneste (1991:60–61) menyatakan bahwa pada proses
penggarapannya pun terjadi perubahan. Novel adalah kreasi individual dan
merupakan hasil kerja perseorangan. Seseorang yang mempunyai pengalaman,
pemikiran, ide, atau hal lain, dapat saja menuliskannya di atas kertas dan
jadilah sebuah novel yang siap untuk dibaca atau tidak dibaca orang lain. Tidak
demikian pembuatan film. Film merupakan hasil kerja gotong royong. Bagus
tidaknya sebuah film, banyak bergantung pada keharmonisan kerja unit-unit di
dalamnya: produser, penulis skenario, sutradara, juru kamera, penata artistik,
perekam suara, para pemain, dan lain-lain. Dengan kata lain, ekranisasi berarti
proses perubahan dari sesuatu yang dihasilkan secara individual menjadi sesuatu
yang dihasilkan secara bersama-sama (gotong-royong).
Eneste (1991:61—66) perubahan yang terjadi dalam
ekranisasi adalah sebagai berikut.
Pengurangan
/ Penciutan
Salah satu langkah yang
ditempuh dalam proses transformasi karya sastra ke film adalah pengurangan.
Pengurangan adalah pengurangan atau pemotongan unsur cerita karya sastra dalam
proses transformasi. Eneste (1991:61) menyatakan bahwa pengurangan dapat
dilakukan terhadap unsur karya sastra seperti cerita, alur, tokoh, latar,
maupun suasana. Dengan adanya proses pengurangan atau pemotongan maka tidak
semua hal yang diungkapkan dalam novel akan dijumpai pula dalam film. Dengan
demikian akan terjadi pemotongan-pemotongan atau penghilangan bagian di dalam karya
sastra dalam proses transformasi ke film.
Eneste (1991:61—62) menjelaskan bahwa pengurangan atau
pemotongan pada unsur cerita sastra dilakukan karena beberapa hal, yaitu: (1)
anggapan bahwa adegan maupun tokoh tertentu dalam karya sastra tersebut tidak
diperlukan atau tidak penting ditampilkan dalam film. Selain itu, latar cerita
dalam novel tidak mungkin dipindahkan secara keseluruhan ke dalam film, karena
film akan menjadi panjang sekali. Oleh karena itu, latar yang ditampilkan dalam
film hanya latar yang memadai atau yang penting-penting saja. Hal tersebut
tentu saja tidak lepas dari pertimbangan tujuan dan durasi waktu penayangan.
(2) Alasan mengganggu, yaitu adanya anggapan atau alasan sineas bahwa
menghadirkan unsur-unsur tersebut justru dapat mengganggu cerita di dalam film.
(3) Adanya keterbatasan teknis film atau medium film, bahwa tidak semua bagian
adegan atau cerita dalam karya sastra dapat dihadirkan di dalam film. (4)
Alasan penonton atau audiens, hal ini
juga berkaitan dengan persoalan durasi waktu.
Penambahan
Penambahan-penambahan yang terjadi dalam proses ekranisasi
disebabkan karena penulis skenario dan sutradara telah menafsirkan terlebih
dahulu novel yang hendak difilmkan. Seorang sutradara tentu mempunyai alasan
tertentu untuk melakukan penambahan misalnya penambahan pada cerita, alur,
penokohan, latar, atau suasana dan juga memungkinkan adanya penambahan
tokoh-tokoh.
Perubahan
Bervariasi
Perubahan bervariasi
adalah hal ketiga yang memungkinkan terjadi dalam proses transformasi dari
karya sastra ke film. Menurut Eneste (1991:65), ekranisasi memungkinkan
terjadinya variasi-variasi tertentu antara novel dan film. Variasi di
sini bisa terjadi dalam ranah ide cerita, gaya penceritaan, dan sebagainya.
Terjadinya variasi dalam transformasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara
lain media yang digunakan, persoalan penonton, durasi waktu pemutaran. Eneste
(1991:67) menyatakan bahwa dalam mengekranisasi pembuat film merasa perlu
membuat variasi-variasi dalam film, sehingga terkesan film yang didasarkan atas
novel itu tidak seasli novelnya.
2. Novel
Novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu
secara lebih banyak, lebih rinci, lebih detail, dan lebih banyak melibatkan
berbagai permasalahan yang lebih kompleks. Hal itu mencakup beberapa unsur
cerita yang membangun novel itu (Nurgiyantoro, 1995:11). Plot, tokoh, latar,
dan lain-lainnya merupakan elemen yang biasanya membentuk karya fiksi. Sayuti
(2000:10-11) mengemukakan bahwa novel cenderung expands “meluas”. Jika
cerpen lebih mengutamakan intensita, novel yang baik cenderung menitikberatkan
munculnya complexity “kompleksitas”. Sebuah novel jelas
tidak akan selesai dibaca dalam sekali baca saja. Karena panjangnya, novel
secara khusus memiliki peluang yang cukup untuk mempermasalahkan karakter tokoh
dalam sebuah perjalanan waktu dan kronologi. Novel juga memungkinkan adanya
penyajian secara panjang lebar mengenai tempat (ruang) tertentu sehingga
tidaklah mengherankan jika posisi manusia dalam masyarakat menjadi pokok
permasalahan yang mendapat perhatian para novelis.
Struktur
plot sebuah fiksi dapat dibagi secara kasar menjadi tiga bagian, yaitu awal,
tengah, akhir. Pola awal-tengah-akhir merupakan pola pilihan atau pola
preferensi pengarang, yakni suatu pola yang dianggap penting dan bermakna. Bisa
saja awal sebuah novel tertentu pada dasarnya merupakan bagian tengah atau
akhir peristiwa novel yang sesungguhnya, demikian seterusnya, tengah bisa
merupakan akhir dan akhir merupakan awal atau tengah cerita (Sayuti, 2000:32).
Bagian awal sebuah cerita boleh jadi mengandung dua hal yang penting, yakni
pemaparan atau eksposisi dan elemen instabilitas. Elemen-elemen ketidakstabilan
yang terdapat pada situasi awal itu mengelompok dengan sendirinya pada bagian
tengah dan membentuk pola konflik. Dalam bagian tengah plot juga muncul adanya
komplikasi dan klimaks diakhiri dengan penyelesaian.
3. Film
Eneste (1991: 60) menyatakan bahwa film adalah hasil kerja
kolektif atau gotong royong. Baik dan tidaknya sebuah film
akan sangat bergantung pada keharmonisan unit-unit yang ada didalamnya yaitu
produser, penulis skenario, sutradara, juru kamera, penata artistik, perekam
suara, para pemain, dan lain-lain. Film merupakan medium audio visual sehingga
suara pun ikut mengambil peranan di dalamnya. Asrul Sani (Sani, 1992: 23)
mengungkapkan bahwa film merupakan sebuah media yang unik dengan kelengkapan
dan kekhususan yang membedakan dengan bentuk kesenian lain.
Pratista
(2008: 1) menjelaskan bahwa film secara umum dapat dibagi menjadi dua unsur
pembentuk, yakni unsur naratif dan unsur sinematik. Kedua unsur tersebut saling
berinteraksi dan saling berkesinambungan satu sama lain untuk membentuk sebuah
film. Unsur naratif adalah bahan (materi) yang akan diolah, sementara unsur
sinematik adalah cara (gaya) untuk mengolahnya. Dalam film cerita, unsur
naratif adalah perlakuan terhadap cerita filmnya. Sementara unsur sinematik
adalah teknis pembentuk film.
Pembahasan
Di
dalam penelitian ini, setiap peristiwa baik di dalam novel maupun di dalam film
akan dijabarkan menjadi episode cerita. Sebuah karya sastra yang dilayarputihkan
akan menimbulkan persamaan dan perbedaan cerita. Novel dan film Cinta Suci
Zahrana memiliki pengurangan, penambahan, dan perubahan episode cerita,
yaitu sebagai berikut.
1.
Penciutan
atau Pengurangan
Penciutan atau
pengurang pada Novel ke Film Cinta Suci Zahrana yaitu sebagai berikut,
pengurangan pertama, di dalam novel di critakan kronologis bagaimana Pak Didik
melamar zahrana melalui e-mail, tetapi di filem itu hanya sebatas selingan
kejadian saja. Kedua di ceritakan di film bahwa zahrana banyak mendapatkan
penghargaan tapi di novel tidak. Ketiga diceritakan di novel kematian Rahmad
yang diceritakan oleh pamannya Rahmad bahwa kronologisnya sebelum Rahmad
meninggal iaya di telfon oleh temannya, tetapi di film kenapa Rahmad meninggal
itu kronologisnya tidak di sampaikan secara detil, malah hanya sekilas
penuturan dari zahrana.
2.
Penambahan
Penambahan pertama, di film diceritakan Zahrana disambut
atas kelulusan S2 oleh dosen dan dekan di Universitas diman dia mengajar,
tetapi di novel tidak diceritakan itu. Kedua di novel tidak diceritakan bahwa
Hasan tidak meminta bimbingan skripsi ke zahrana secara langsung, tetapi di
filem itu diceritakan secara jelas. Ketiga tidak diceritakannya Hasan
memberikan undangan pernikahannnya Nina di novel, tapi di filem itu di
ceritakan secara jelas.
3.
Perubahan
bervariasi
Perubahan
bervariasi yang pertama ialah diceritakan di novel bahwa bu merlin itu berlogat
medan tetapi karna lama di jawa logat medanya agak hilang, sementara di filem
itu justru kebalikannya, logat medan bu merli justru terlihat jelas sekali
tidak berubah. Kedua Pak Sukarman yang dicerita novel terihat serasa tegas dan
hanya sesekali bercada, tarnya di filem justru kebalikannya, Pak Sukarman di
filem itu orangnya sangat humoris dan lucu. Ketiga kenalan lina yang seorang
pemilik bengkel motor yang melamar zahrana ternyata di filem diceritan malah
iya pemilik sebuah bengkel mobil. Keempat ketika zahrana mengetahui Pak Karman
mati di bunuh, di novel di ceritakan bahwa zahrana mengetahui itu dia membaca
Koran itu sendiri, tetapi di filem dia diberi tahu oleh guru STM yang dari pagi
memang sedang membicarakan tentang berita itu. Kelima diceritakan di novel
zahrana itu tidak pindah rumah, tetapi di filem secara terang terangan zahrana
dan ibunya itu pindah rumah setelah kejadian meninggalnya bapaknya zahrana.
C. Metodeologi Penelitian
Teknik pengumpulan data pada novel yang digunakan dalam penelitian ini
adalah teknik membaca dan catat. Sedangkan, teknik pengumpulan data pada film
dilakukan dengan cara menonton dan mencatat. Metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif.
Data dalam penelitian ini adalah kata-kata, kalimat, dan kutipan yang terdapat
dalm novel dan film Cinta
Suci Zahrana. Sedangkan,
sumber data dalam penelitian ini adalah novel Cinta
Suci Zahrana karya
Habiburrahman El Shirazy yang diterbitkan oleh Pondok Pesantren pada tahun 2012
sebanyak 284 lembar. Film Cinta
Suci Zahrana yang
disutradarai oleh Chaerul Umam dan digarap oleh rumah produksi Sinemart Picture.Teknik pengumpulan data pada novel yang digunakan
dalam penelitian ini adalah teknik membaca dan catat. Sedangkan, teknik
pengumpulan data pada film dilakukan dengan cara menonton dan mencatat.
D.
Hasil dan Pembahasan
Dengan
pendekatan ekranisasi kita bisa tahu dan bisa membandingkan cerita pada
novel Cinta Suci Zahrana dan cerita yang
sudah difilmkan. Semua hal-hal yang terdapat pada novel Cinta Suci Zahrana itu
tidak selalu ada dalam film Cinta Suci Zahrana, karena dalam film memiliki
kepentingan-kepentingan tersendiri. Pada pendekatan ekranisasi mengakibatkan
beberapa perubahan yaitu penciutan atau pengurangan, penambahan, dan perubahan
bervariasi.
1.
Penciutan atau Pengurangan
Eneste (1991:61) mengungkapkan salah
satu langkah yang ditempuh dalam proses transformasi sastra ke film adalah
penciutan. Penciutan adalah pengurangan atau pemotongan unsur cerita karya
sastra dalam proses transformasi. Penciutan dapat dilakukan terhadap unsur
sastra seperti cerita, alur, tokoh, latar, maupun suasana. Dengan adanya proses
penciutan atau pemotongan maka tidak semua hal yang diungkapkan dalam novel
akan dijumpai pula dalam film.
Adapun bagaian novel Cinta Suci Zahrana
yang tidak difilmkan adalah sebagai berikut:
a.
Ketika Lina sahabat dekat dari Zahrana
mengenalkan Andi kepada Zahrana bermaksud untuk menjodohkan dengannya.
b.
Ketika Zahrana menerima penghargaan dan
menyampaikan pidato di China.
c.
Ketika Zahrana diajak oleh Gugun untuk
berbicara termasuk berbicara isi hatinya Gugun kepada Zahrana.
d.
Saat Bu Merlin mendatangi rumah Zahrana
untuk menyampaikan lamaran dari Pak Sukarman.
e.
Ketika penggambaran latar saat akhir
cerita, dimana jika dalam film saat Hasan dan Zahrana menikah mereka pergi ke
luar negeri bukan di daerah Candi Prambanan.
f.
Ketika Zahrana bertemu dengan Andi di bandara
untuk pergi ke Bejing China.
2.
Penambahan
Eneste (1991:65) menjelaskan bahwa
kemungkinan yang dapat terjadi dalam proses transformasi sastra ke bentuk film
adalah penambahan (perluasan). Seperti halnya dalam kreasi penciutan, dalam
proses ini juga biasa terjadi pada ranah cerita, alur, penokohan, latar, maupun
suasana. Penambahan yang dilakukan dalam proses ekranisasi ini tentu memiliki
alasan, baik alasan pentingnya penambahan, alasan relevansinya dengan cerita
secara keseluruhan, ataupun karena alasan lain.
Adapun penambahan yang tidak terdapat
dalam novel Cinta Suci Zahrana namun terdapat dalam film Cinta Suci Zahrana
antara lain:
a.
Ketika difilm Cinta Suci Zahrana,
asisten Pak Sukarman mengunjungi rumah Pak Munajat untuk mengancam jika lamaran
dari Pak Sukarman itu tidak diterima, maka Zahrana akan dipecat.
b.
Ketika difilm Zahrana ingin berangkat ke
kampus kemudian diperjalanan Zahrana bertemu dengan ibu-ibu yang sedang
menggendong cucunya yaitu anaknya Surti.
c.
Ketika pengusaha bengkel mengunjungi
rumah Zahrana yang hendak ingin menawarkan mobilnya untuk Zahrana dan sekalian
ingin melemar Zahrana.
3.
Perubahan Bervariasi
Perubahan
bervariasi disebabkan karena kemungkinan pembuat film merasa perlu untuk
membuat variasi- variasi dalam film, sehingga terkesan film yang didasarkan
atas novel itu tidak seasli novelnya (Eneste, 1991: 65-67). Perubahan
bervariasi juga bisa kita lihat dengan melihat perubahan alur, perubahan latar,
dan perubahan dialog.
a.
Perubahan Alur
Pada novel Cinta
Suci Zahrana yang bertrasformasi menjadi film Cinta Suci Zahrana terjadi
perubahan alur, yaitu pada bagaian awal cerita. Pada bagian awal novel Cinta
Suci Zahrana tidak terdapat atau dihilangkan setelah difilmkan, yaitu
kemunculan konflik anatara Zahrana dan kedua orangtuanya. Jika dinovel bagaian
awal muncul sebuah konflik ketika perbedaan pendapat antara Zahrana dan
orangtuanya yaitu ketika Zahrana ingin melanjutkan sekolah ke SMA namun
orangtua Zahrana menyarankan Zahrana melanjutkannya di Pesantren. Sementara
ketika difilmkan pada bagian awal muncul sebuah konflik yaitu antara Zahrana
dengan Pak Sukarman ketika Pak Sukarman memberikan sambutan atas keberhasilan
Zahrana mendapatkan penghargaan di Bejing China, dengan sambutan yang kurang
sopan didengar oleh Zahrana.
b.
Perubahan Latar
Latar tempat
yang diubah dari novel Cinta Suci Zahrana ke film diantaranya yaitu:
a)
Ketika bagian akhir cerita, dalam novel
akhir cerita berlatar tempat di Tembok China tetapi dalam film akhir ceritanya
berlatar tempat di Candi Prambanan.
b)
Pada novel Zahrana menghampiri rumah
sahabatnya yaitu Lina, tetapi dalam film rumah Lina diganti dengan toko buku.
c.
Perubahan Dialog
Adapun dialog
yang diubah dari novel Cinta Suci Zahrana ketika difilmkan itu sangat
bervariasi ada penambahan, pengurangan, dan perubahan variasi di antaranya
Dialog Bu Merlin
dengan Zahrana di kantin, berikut ini kutipan dialognya.
“Bu Rana cari Bu
Merlin?”
“Iya”
“Penjaga kantin
menunjuk ke ruangan khusus dosen. Zahrana mengangguk.”
“Terima kasih
Bu.”
“Silahkan duduk
Bu Rana. Saya sudah pesankan minuman kesukaan Bu Rana. Jahe hangat kan. Aku
bilang begitu Bu Rana datang langsung dibuatkan biar masih hangat. Kata Bu
Merlin.”
“Terima kasih Bu
Merlin. Maaf ini seperti tidak biasanya. Ada keperluan apa ya Bu “Merlin
meminta saya bertemu di sini?”
“Ada dua hal
penting yang ingin saya bicarakan mewakili Pak Dekan.” (pada halaman123-126).
Ketika
difilmkan dialog yang sangat panjang itu diubah hampir keseluruhannya, di dalam
film Bu Merlin dan Zahrana hanya berdialog sangat simple, dan sangat singkat.
Seperti berikut.
“Ditunggu
Bu Merlin Bu” kata petugas kantin.
“Iya
terimakasih.”
“Selamat
pagi Bu Merlin”
“Pagi”
“Dik
Rana aku ingin menyampaikan pesan dari Pak Karman”
Dari
aspek-aspek tersebut dapat diketahui pengurangan, penambahan, dan perubahan
bervariasi dari bentuk novel menjadi film. Seorang penulis sekenario dan
sutradara memikirkan bagaimana mengubah dari bentuk novel menjadi film tanpa
mengubah pesan yang hendak disampaikan, karena yang terpenting adalah apa yang
hendak disampaikan kepada penonton itu tersampaikan dengan baik dan mudah
dipahami.
D.
Simpulan
hasil penelitian
dan pembahasan terhadap ekranisasi novel dan film Cinta Suci Zahrana ditemukan
beberapa hal. Pertama, perbandingan yang dilakukan terhadap alur dalam novel
dan film Cinta Suci Zahrana dari setiap bagian- bagian alur meliputi
eksposisi, instabilitasi, konflik, komplikasi, klimaks, dan penyelesaian
menunjukkan bahwa terdapat peristiwa yang sengaja dihilangkan, ditambahkan, dan
diubah sesuai kebutuhan dalam film yang tidak berada dalam tahapan alur yang
sama. Beberapa perbedaan antara novel dan film yang disebabkan karena adanya
penambahan, penciutan dan perubahan bervariasi yang terjadi dalam proses
ekranisasi.
Kedua,
pembahasan mengenai perubahan-perubahan yang terjadi pada proses ekranisasi
dari novel ke film Cinta Suci Zahrana menghasilkan perubahan-perubahan yakni
penambahan, penciutan, dan perubahan variasi. Aspek penciutan mengacu pada
semua bagian di dalam novel yang tidak ditampilkan ke dalam film ditemukan
sebanyak tiga penciutan atau pengurangan. Aspek penciutan terjadi karena adanya
keterbatasan teknik dan durasi sehingga semua unsur yang ada dalam novel tida
dapat dihadirkan dalam film.
Aspek penambahan
mengacu pada semua bagian yang sebelumnya tidak ada di dalam novel kemudian
ditambahkan di dalam film ditemukan sebanyak tiga Penambahan. Aspek penambahan
terjadi karena adanya adanya penafsiran oleh penulis skenario dan sutradara
untuk menghadirkan hal-hal yang penting.
Aspek perubahan
variasi mengacu pada munculnya perubahan tambahan yang dilakukan pada bagian
yang terdapat di dalam novel ketika telah diekranisasi ke dalam film ditemukan
sebanyak Lima Perubahan bervariasi. Aspek perubahan variasi terjadi karena
novel dan film memiliki media yang berbeda sehingga perubahan-perubahan akan
dilakukan sineas dalam menggarap sebuah film
DAFTAR PUSTAKA
Eneste, Pamusuk. 1991. Novel dan
Film. Jakarta: Nusa Indah.
Pratista, Himawan. 2008. Memahami
Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka.
Sani, Asrul. 1992. Cara Menilai
Sebuah Film. Jakarta: Yayasan Citra.
Nurgiyantoro,
Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Sayuti, Suminto. 2000. Berkenalan
dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media.
Suseno WS. 2011. Filmisasi karya
sastra Indonesia: kajian ekranisasi pada cerpen dan film “Tentang
Dia”. Artikel.
Semarang: program studi bahasa sastra Indonesia, FBS Universitas negeri
semarang.
http://bahasfilmbareng.blogspot.com/2008/04/
pengertian- film.html).
Komentar
Posting Komentar