transformasi novel cinta suci zahrana ke film cinta suci zahrana, sebuah kajian ekranisasi


TRANSFORMASI NOVEL CINTA SUCI ZAHRANA KE FILM CINTA SUCI ZAHRANA: SEBUAH KAJIAN EKRANISASI
Agung Prasetyo
Program Studi Pendidikan Bahasa dan  Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Wiralodra Indramayu

Abstrak
Penelitian ini memotivasi pengembangan karya seni yang terus berkembang dan dengan perkembangan teknologi informasi saat ini. Satu jenis seni membutuhkan karya seni lainnya sebagai referensi. Alih-alih naik dari satu jenis seni ke bentuk seni lain itu permintaan oleh orang-orang di industri film adalah lebih dari kendaraan novel menjadi sebuah film. Novel Cinta Suci Zahrana memiliki unsur estetis yang menarik untuk dinilai. Karakter novel dibangun oleh perjalanan pendidikan dan menjodohkan sosok Zahrana itu berbeda dengan orang tuanya.
Teori ini digunakan untuk menganalisis struktur novel tersebut Teori struktural Cinta Suci Zahrana, Nurgiyantoro dan Siswanto. Setelah Novel Cinta Suci Zahrana memfilmkan banyak perubahan, di antaranya adalah alur perubahan, latar belakang dan karakter. Rides atas pendekatan teoritis dari novel Untuk film yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan teoritis yaitu wahana damardi djoko damono dan teori transformasi Pamusuk Eneste. Pendekatan ini digunakan untuk menyelidiki perubahan yang terjadi setelah novel itu difilmkan.


A.     Pendahuluan
1.     Latar Belakang
Novel merupakan bentuk karya sastra yang sekaligus disebut fiksi. Novel adalah salah satu karya sastra bersifat kreatif imajinatif yang mengemas persoalan kehidupan manusia secara kompleks dengan berbagai konflik, sehingga pembaca memperoleh pengalaman-pengalaman baru tentang kehidupan. Novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu secara lebih banyak, lebih rinci, lebih detil, dan lebih banyak melibatkan berbagai permasalahan yang lebih kompleks (Nurgiyantoro,1995:11).
Novel yang menarik perhatian pembaca biasanya menyuguhkan alur cerita yang menarik pula. Muhardi dan Hasanuddin WS (1992:28) menyatakan alur adalah hubungan antara suatu peristiwa atau kelompok peristiwa dengan peristiwa lain dalam novel. Tanpa hubungan sebab akibat suatu rentetan peristiwa tidaklah dapat disebut suatu alur. Setiap perubahan tokoh,tindakan,tempat,dan waktu pada cerita dapat menyebabkan munculnya peristiwa baru yang disebut episode cerita. Menurut Ensiklopedi Sastra Indonesia, episode berasal dari istilah Inggris dan Perancis, yaitu suatu lakuan pendek sebuah karya sastra yang merupakan bagian integral dari alur utama, tetapi jelas batas-batasnya; suatu bagian yang dapat berdiri sendiri dalam deretan peristiwa suatu cerita.
Film adalah gambar hidup, juga sering disebut movie. Film, secara kolektif sering disebut sinema. Sinema itu sendiri bersumber dari kata kinematik atau gerak. Film juga sebenarnya merupakan lapisan-lapisan cairan selulosa, biasa dikenal di dunia para sineas sebagai seluloid. Pengertian secara harfiah film (sinema) adalah cinemathographie yang berasal dari “cinema”, “tho” (berasal dari kata phytos artinya cahaya) dan “graphie” (berasal dari graph artinya tulisan, gambar, citra). Jadi pengertiannya adalah melukis gerak dengan cahaya. Agar kita dapat melukis gerak dengan cahaya, kita harus menggunakan alat khusus, yang biasa kita sebut dengan kamera.
Bluestone (dalam Eneste, 1991:18) menyatakan, film merupakan gabungan dari berbagai ragam kesenian, yaitu musik, seni rupa, drama, sastra ditambah dengan unsur fotografi. Eneste (1991:60) menyatakan bahwa film merupakan hasil kerja kolektif atau gotong royong. Baik dan tidaknya sebuah film akan sangat bergantung pada keharmonisan kerja unit-unit yang ada di dalamnya (produser, penulis skenario, sutradara, juru kamera, penata artistik, perekam suara, para pemain, dan lain-lain). Oleh karena itu, film merupakan medium audio visual, suarapun ikut mengambil peranan di dalamnya.
Ekranisasi, menurut Eneste (1991:60) adalah pelayarputihan atau pemindahan sebuah novel ke dalam film. Ekranisasi adalah suatu proses pelayarputihan atau pemindahan atau pengangkatan sebuah novel ke dalam film. Pemindahan dari novel ke layar putih mau tidak mau mengakibatkan timbulnya berbagai perubahan. Oleh karena itu, ekranisasi juga bisa disebut sebagai proses perubahan bisa mengalami penciutan, penambahan (perluasan), dan perubahan dengan sejumlah variasi.
                                                      
1.     Rumusan Masalah
1.      Mendefinisi makna dan arti Ekranisasi dari para ahli
2.      Meneliti Tranformasi Novel ke Film Cinta Suci Zahrana dg Kajian Ekranisasi.

2.   Tujuan dan Manfaat
Jurnal ini di buat khususnya untuk mengetahui apa itu Kajian Ekranisasi dan Bagaimana cara melakukan sebuah Ekranisasi dari sebuah Karya Sastra seperti Novel ke Bentuk Film.
Manfaat dari di buatnya penyususnan Jurnal ini perta sebagai acuan bagi mahasiswa untuk mengetahui tentang Kajian Ekranisasi dan penerapan Kajian Ekranisasi ini.





B.     Teori Ekranisasi
1.      Ekranisasi
Transformasi dari karya sastra ke bentuk film dikenal dengan istilah ekranisasi. Istilah ini berasal dari bahasa Prancis, Ã©cran yang berarti ‘layar’.  Ekranisasi adalah pelayar putihan atau pemindahan atau pengangkatan sebuah novel ke dalam film. Eneste (1991:60–61) menambahkan yang dimaksud dengan ekranisasi adalah pelayar putihan atau pemindahan atau pengangkatan sebuah novel ke dalam film. Pemindahan novel ke layar putih mau tidak mau mengakibatkan timbulnya berbagai perubahan.
 Oleh sebab itu dapat dikatakan, ekranisasi adalah proses perubahan bisa mengalami penciutan, penambahan dan perubahan dengan sejumlah variasi. Alat utama dalam novel adalah kata-kata, segala sesuatu disampaikan dengan kata-kata. Cerita, alur, penokohan, latar, suasana, dan gaya sebuah novel dibangun dengan kata-kata. Pemindahan novel ke layar putih, berarti terjadinya perubahan pada alat-alat yang dipakai, yakni mengubah dunia kata-kata menjadi dunia gambar-gambar yang bergerak berkelanjutan. Sebab di dalam film, cerita, alur, penokohan, latar, suasana dan gaya diungkapkan melalui gambar-gambar yang bergerak berkelanjutan.
 Apa yang tadinya dilukiskan atau diungkapkan dengan katakata, kini harus diterjemahkan ke dunia gambar-gambar.
Eneste (1991:60–61) menyatakan bahwa pada proses penggarapannya pun terjadi perubahan. Novel adalah kreasi individual dan merupakan hasil kerja perseorangan. Seseorang yang mempunyai pengalaman, pemikiran, ide, atau hal lain, dapat saja menuliskannya di atas kertas dan jadilah sebuah novel yang siap untuk dibaca atau tidak dibaca orang lain. Tidak demikian pembuatan film. Film merupakan hasil kerja gotong royong. Bagus tidaknya sebuah film, banyak bergantung pada keharmonisan kerja unit-unit di dalamnya: produser, penulis skenario, sutradara, juru kamera, penata artistik, perekam suara, para pemain, dan lain-lain. Dengan kata lain, ekranisasi berarti proses perubahan dari sesuatu yang dihasilkan secara individual menjadi sesuatu yang dihasilkan secara bersama-sama (gotong-royong).
Eneste (1991:61—66) perubahan yang terjadi dalam ekranisasi adalah sebagai berikut.
Pengurangan / Penciutan
Salah satu langkah yang ditempuh dalam proses transformasi karya sastra ke film adalah pengurangan. Pengurangan adalah pengurangan atau pemotongan unsur cerita karya sastra dalam proses transformasi. Eneste (1991:61) menyatakan bahwa pengurangan dapat dilakukan terhadap unsur karya sastra seperti cerita, alur, tokoh, latar, maupun suasana. Dengan adanya proses pengurangan atau pemotongan maka tidak semua hal yang diungkapkan dalam novel akan dijumpai pula dalam film. Dengan demikian akan terjadi pemotongan-pemotongan atau penghilangan bagian di dalam karya sastra dalam proses transformasi ke film.
Eneste (1991:61—62) menjelaskan bahwa pengurangan atau pemotongan pada unsur cerita sastra dilakukan karena beberapa hal, yaitu: (1) anggapan bahwa adegan maupun tokoh tertentu dalam karya sastra tersebut tidak diperlukan atau tidak penting ditampilkan dalam film. Selain itu, latar cerita dalam novel tidak mungkin dipindahkan secara keseluruhan ke dalam film, karena film akan menjadi panjang sekali. Oleh karena itu, latar yang ditampilkan dalam film hanya latar yang memadai atau yang penting-penting saja. Hal tersebut tentu saja tidak lepas dari pertimbangan tujuan dan durasi waktu penayangan. (2) Alasan mengganggu, yaitu adanya anggapan atau alasan sineas bahwa menghadirkan unsur-unsur tersebut justru dapat mengganggu cerita di dalam film. (3) Adanya keterbatasan teknis film atau medium film, bahwa tidak semua bagian adegan atau cerita dalam karya sastra dapat dihadirkan di dalam film. (4) Alasan penonton atau audiens, hal ini juga berkaitan dengan persoalan durasi waktu.


Penambahan
Penambahan-penambahan yang terjadi dalam proses ekranisasi disebabkan karena penulis skenario dan sutradara telah menafsirkan terlebih dahulu novel yang hendak difilmkan. Seorang sutradara tentu mempunyai alasan tertentu untuk melakukan penambahan misalnya penambahan pada cerita, alur, penokohan, latar, atau suasana dan juga memungkinkan adanya penambahan tokoh-tokoh.

Perubahan Bervariasi
Perubahan bervariasi adalah hal ketiga yang memungkinkan terjadi dalam proses transformasi dari karya sastra ke film. Menurut Eneste (1991:65), ekranisasi memungkinkan terjadinya variasi-variasi tertentu antara  novel dan film. Variasi di sini bisa terjadi dalam ranah ide cerita, gaya penceritaan, dan sebagainya. Terjadinya variasi dalam transformasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain media yang digunakan, persoalan penonton, durasi waktu pemutaran. Eneste (1991:67) menyatakan bahwa dalam mengekranisasi pembuat film merasa perlu membuat variasi-variasi dalam film, sehingga terkesan film yang didasarkan atas novel itu tidak seasli novelnya.
2. Novel
Novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu secara lebih banyak, lebih rinci, lebih detail, dan lebih banyak melibatkan berbagai permasalahan yang lebih kompleks. Hal itu mencakup beberapa unsur cerita yang membangun novel itu (Nurgiyantoro, 1995:11). Plot, tokoh, latar, dan lain-lainnya merupakan elemen yang biasanya membentuk karya fiksi. Sayuti (2000:10-11) mengemukakan bahwa novel cenderung expands “meluas”. Jika cerpen lebih mengutamakan intensita, novel yang baik cenderung menitikberatkan munculnya complexity “kompleksitas”. Sebuah novel jelas tidak akan selesai dibaca dalam sekali baca saja. Karena panjangnya, novel secara khusus memiliki peluang yang cukup untuk mempermasalahkan karakter tokoh dalam sebuah perjalanan waktu dan kronologi. Novel juga memungkinkan adanya penyajian secara panjang lebar mengenai tempat (ruang) tertentu sehingga tidaklah mengherankan jika posisi manusia dalam masyarakat menjadi pokok permasalahan yang mendapat perhatian para novelis.
Struktur plot sebuah fiksi dapat dibagi secara kasar menjadi tiga bagian, yaitu awal, tengah, akhir. Pola awal-tengah-akhir merupakan pola pilihan atau pola preferensi pengarang, yakni suatu pola yang dianggap penting dan bermakna. Bisa saja awal sebuah novel tertentu pada dasarnya merupakan bagian tengah atau akhir peristiwa novel yang sesungguhnya, demikian seterusnya, tengah bisa merupakan akhir dan akhir merupakan awal atau tengah cerita (Sayuti, 2000:32). Bagian awal sebuah cerita boleh jadi mengandung dua hal yang penting, yakni pemaparan atau eksposisi dan elemen instabilitas. Elemen-elemen ketidakstabilan yang terdapat pada situasi awal itu mengelompok dengan sendirinya pada bagian tengah dan membentuk pola konflik. Dalam bagian tengah plot juga muncul adanya komplikasi dan klimaks diakhiri dengan penyelesaian.

3. Film
Eneste (1991: 60) menyatakan bahwa film adalah hasil kerja kolektif atau gotong royong. Baik dan tidaknya sebuah film akan sangat bergantung pada keharmonisan unit-unit yang ada didalamnya yaitu produser, penulis skenario, sutradara, juru kamera, penata artistik, perekam suara, para pemain, dan lain-lain. Film merupakan medium audio visual sehingga suara pun ikut mengambil peranan di dalamnya. Asrul Sani (Sani, 1992: 23) mengungkapkan bahwa film merupakan sebuah media yang unik dengan kelengkapan dan kekhususan yang membedakan dengan bentuk kesenian lain.
Pratista (2008: 1) menjelaskan bahwa film secara umum dapat dibagi menjadi dua unsur pembentuk, yakni unsur naratif dan unsur sinematik. Kedua unsur tersebut saling berinteraksi dan saling berkesinambungan satu sama lain untuk membentuk sebuah film. Unsur naratif adalah bahan (materi) yang akan diolah, sementara unsur sinematik adalah cara (gaya) untuk mengolahnya. Dalam film cerita, unsur naratif adalah perlakuan terhadap cerita filmnya. Sementara unsur sinematik adalah teknis pembentuk film.
Pembahasan
      Di dalam penelitian ini, setiap peristiwa baik di dalam novel maupun di dalam film akan dijabarkan menjadi episode cerita. Sebuah karya sastra yang dilayarputihkan akan menimbulkan persamaan dan perbedaan cerita. Novel dan film Cinta Suci Zahrana memiliki pengurangan, penambahan, dan perubahan episode cerita, yaitu sebagai berikut.

1.      Penciutan atau Pengurangan
Penciutan atau pengurang pada Novel ke Film Cinta Suci Zahrana yaitu sebagai berikut, pengurangan pertama, di dalam novel di critakan kronologis bagaimana Pak Didik melamar zahrana melalui e-mail, tetapi di filem itu hanya sebatas selingan kejadian saja. Kedua di ceritakan di film bahwa zahrana banyak mendapatkan penghargaan tapi di novel tidak. Ketiga diceritakan di novel kematian Rahmad yang diceritakan oleh pamannya Rahmad bahwa kronologisnya sebelum Rahmad meninggal iaya di telfon oleh temannya, tetapi di film kenapa Rahmad meninggal itu kronologisnya tidak di sampaikan secara detil, malah hanya sekilas penuturan dari zahrana.
2.      Penambahan
Penambahan  pertama, di film diceritakan Zahrana disambut atas kelulusan S2 oleh dosen dan dekan di Universitas diman dia mengajar, tetapi di novel tidak diceritakan itu. Kedua di novel tidak diceritakan bahwa Hasan tidak meminta bimbingan skripsi ke zahrana secara langsung, tetapi di filem itu diceritakan secara jelas. Ketiga tidak diceritakannya Hasan memberikan undangan pernikahannnya Nina di novel, tapi di filem itu di ceritakan secara jelas.
3.      Perubahan bervariasi
Perubahan bervariasi yang pertama ialah diceritakan di novel bahwa bu merlin itu berlogat medan tetapi karna lama di jawa logat medanya agak hilang, sementara di filem itu justru kebalikannya, logat medan bu merli justru terlihat jelas sekali tidak berubah. Kedua Pak Sukarman yang dicerita novel terihat serasa tegas dan hanya sesekali bercada, tarnya di filem justru kebalikannya, Pak Sukarman di filem itu orangnya sangat humoris dan lucu. Ketiga kenalan lina yang seorang pemilik bengkel motor yang melamar zahrana ternyata di filem diceritan malah iya pemilik sebuah bengkel mobil. Keempat ketika zahrana mengetahui Pak Karman mati di bunuh, di novel di ceritakan bahwa zahrana mengetahui itu dia membaca Koran itu sendiri, tetapi di filem dia diberi tahu oleh guru STM yang dari pagi memang sedang membicarakan tentang berita itu. Kelima diceritakan di novel zahrana itu tidak pindah rumah, tetapi di filem secara terang terangan zahrana dan ibunya itu pindah rumah setelah kejadian meninggalnya bapaknya zahrana.
C.  Metodeologi Penelitian
Teknik pengumpulan data pada novel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik membaca dan catat. Sedangkan, teknik pengumpulan data pada film dilakukan dengan cara menonton dan mencatat. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah kata-kata, kalimat, dan kutipan yang terdapat dalm novel dan film Cinta Suci Zahrana. Sedangkan, sumber data dalam penelitian ini adalah novel Cinta Suci Zahrana karya Habiburrahman El Shirazy yang diterbitkan oleh Pondok Pesantren pada tahun 2012 sebanyak 284 lembar. Film Cinta Suci Zahrana yang disutradarai oleh Chaerul Umam dan digarap oleh rumah produksi Sinemart Picture.Teknik pengumpulan data pada novel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik membaca dan catat. Sedangkan, teknik pengumpulan data pada film dilakukan dengan cara menonton dan mencatat.



D. Hasil dan Pembahasan
Dengan pendekatan ekranisasi kita bisa tahu dan bisa membandingkan cerita pada novel  Cinta Suci Zahrana dan cerita yang sudah difilmkan. Semua hal-hal yang terdapat pada novel Cinta Suci Zahrana itu tidak selalu ada dalam film Cinta Suci Zahrana, karena dalam film memiliki kepentingan-kepentingan tersendiri. Pada pendekatan ekranisasi mengakibatkan beberapa perubahan yaitu penciutan atau pengurangan, penambahan, dan perubahan bervariasi.
1.         Penciutan atau Pengurangan
Eneste (1991:61) mengungkapkan salah satu langkah yang ditempuh dalam proses transformasi sastra ke film adalah penciutan. Penciutan adalah pengurangan atau pemotongan unsur cerita karya sastra dalam proses transformasi. Penciutan dapat dilakukan terhadap unsur sastra seperti cerita, alur, tokoh, latar, maupun suasana. Dengan adanya proses penciutan atau pemotongan maka tidak semua hal yang diungkapkan dalam novel akan dijumpai pula dalam film.
Adapun bagaian novel Cinta Suci Zahrana yang tidak difilmkan adalah sebagai berikut:
a.         Ketika Lina sahabat dekat dari Zahrana mengenalkan Andi kepada Zahrana bermaksud untuk menjodohkan dengannya.
b.         Ketika Zahrana menerima penghargaan dan menyampaikan pidato di China.
c.         Ketika Zahrana diajak oleh Gugun untuk berbicara termasuk berbicara isi hatinya Gugun kepada Zahrana.
d.        Saat Bu Merlin mendatangi rumah Zahrana untuk menyampaikan lamaran dari Pak Sukarman.
e.         Ketika penggambaran latar saat akhir cerita, dimana jika dalam film saat Hasan dan Zahrana menikah mereka pergi ke luar negeri bukan di daerah Candi Prambanan.
f.          Ketika Zahrana bertemu dengan Andi di bandara untuk pergi ke Bejing China.
2.         Penambahan
Eneste (1991:65) menjelaskan bahwa kemungkinan yang dapat terjadi dalam proses transformasi sastra ke bentuk film adalah penambahan (perluasan). Seperti halnya dalam kreasi penciutan, dalam proses ini juga biasa terjadi pada ranah cerita, alur, penokohan, latar, maupun suasana. Penambahan yang dilakukan dalam proses ekranisasi ini tentu memiliki alasan, baik alasan pentingnya penambahan, alasan relevansinya dengan cerita secara keseluruhan, ataupun karena alasan lain.
Adapun penambahan yang tidak terdapat dalam novel Cinta Suci Zahrana namun terdapat dalam film Cinta Suci Zahrana antara lain:
a.         Ketika difilm Cinta Suci Zahrana, asisten Pak Sukarman mengunjungi rumah Pak Munajat untuk mengancam jika lamaran dari Pak Sukarman itu tidak diterima, maka Zahrana akan dipecat.
b.         Ketika difilm Zahrana ingin berangkat ke kampus kemudian diperjalanan Zahrana bertemu dengan ibu-ibu yang sedang menggendong cucunya yaitu anaknya Surti.
c.         Ketika pengusaha bengkel mengunjungi rumah Zahrana yang hendak ingin menawarkan mobilnya untuk Zahrana dan sekalian ingin melemar Zahrana.
3.         Perubahan Bervariasi
Perubahan bervariasi disebabkan karena kemungkinan pembuat film merasa perlu untuk membuat variasi- variasi dalam film, sehingga terkesan film yang didasarkan atas novel itu tidak seasli novelnya (Eneste, 1991: 65-67). Perubahan bervariasi juga bisa kita lihat dengan melihat perubahan alur, perubahan latar, dan perubahan dialog.
a.         Perubahan Alur
Pada novel Cinta Suci Zahrana yang bertrasformasi menjadi film Cinta Suci Zahrana terjadi perubahan alur, yaitu pada bagaian awal cerita. Pada bagian awal novel Cinta Suci Zahrana tidak terdapat atau dihilangkan setelah difilmkan, yaitu kemunculan konflik anatara Zahrana dan kedua orangtuanya. Jika dinovel bagaian awal muncul sebuah konflik ketika perbedaan pendapat antara Zahrana dan orangtuanya yaitu ketika Zahrana ingin melanjutkan sekolah ke SMA namun orangtua Zahrana menyarankan Zahrana melanjutkannya di Pesantren. Sementara ketika difilmkan pada bagian awal muncul sebuah konflik yaitu antara Zahrana dengan Pak Sukarman ketika Pak Sukarman memberikan sambutan atas keberhasilan Zahrana mendapatkan penghargaan di Bejing China, dengan sambutan yang kurang sopan didengar oleh Zahrana.
b.         Perubahan Latar
Latar tempat yang diubah dari novel Cinta Suci Zahrana ke film diantaranya yaitu:
a)         Ketika bagian akhir cerita, dalam novel akhir cerita berlatar tempat di Tembok China tetapi dalam film akhir ceritanya berlatar tempat di Candi Prambanan.
b)        Pada novel Zahrana menghampiri rumah sahabatnya yaitu Lina, tetapi dalam film rumah Lina diganti dengan toko buku.
c.         Perubahan Dialog
Adapun dialog yang diubah dari novel Cinta Suci Zahrana ketika difilmkan itu sangat bervariasi ada penambahan, pengurangan, dan perubahan variasi di antaranya
Dialog Bu Merlin dengan Zahrana di kantin, berikut ini kutipan dialognya.
“Bu Rana cari Bu Merlin?”
“Iya”
“Penjaga kantin menunjuk ke ruangan khusus dosen. Zahrana mengangguk.”
“Terima kasih Bu.”
“Silahkan duduk Bu Rana. Saya sudah pesankan minuman kesukaan Bu Rana. Jahe hangat kan. Aku bilang begitu Bu Rana datang langsung dibuatkan biar masih hangat. Kata Bu Merlin.”
“Terima kasih Bu Merlin. Maaf ini seperti tidak biasanya. Ada keperluan apa ya Bu “Merlin meminta saya bertemu di sini?”
“Ada dua hal penting yang ingin saya bicarakan mewakili Pak Dekan.” (pada halaman123-126).
Ketika difilmkan dialog yang sangat panjang itu diubah hampir keseluruhannya, di dalam film Bu Merlin dan Zahrana hanya berdialog sangat simple, dan sangat singkat. Seperti berikut.
“Ditunggu Bu Merlin Bu” kata petugas kantin.
“Iya terimakasih.”
“Selamat pagi Bu Merlin”
“Pagi”
“Dik Rana aku ingin menyampaikan pesan dari Pak Karman”
Dari aspek-aspek tersebut dapat diketahui pengurangan, penambahan, dan perubahan bervariasi dari bentuk novel menjadi film. Seorang penulis sekenario dan sutradara memikirkan bagaimana mengubah dari bentuk novel menjadi film tanpa mengubah pesan yang hendak disampaikan, karena yang terpenting adalah apa yang hendak disampaikan kepada penonton itu tersampaikan dengan baik dan mudah dipahami.









D.     Simpulan
hasil penelitian dan pembahasan terhadap ekranisasi novel dan film Cinta Suci Zahrana ditemukan beberapa hal. Pertama, perbandingan yang dilakukan terhadap alur dalam novel dan film Cinta Suci Zahrana dari setiap bagian- bagian alur meliputi eksposisi, instabilitasi, konflik, komplikasi, klimaks, dan penyelesaian menunjukkan bahwa terdapat peristiwa yang sengaja dihilangkan, ditambahkan, dan diubah sesuai kebutuhan dalam film yang tidak berada dalam tahapan alur yang sama. Beberapa perbedaan antara novel dan film yang disebabkan karena adanya penambahan, penciutan dan perubahan bervariasi yang terjadi dalam proses ekranisasi.
Kedua, pembahasan mengenai perubahan-perubahan yang terjadi pada proses ekranisasi dari novel ke film Cinta Suci Zahrana  menghasilkan perubahan-perubahan yakni penambahan, penciutan, dan perubahan variasi. Aspek penciutan mengacu pada semua bagian di dalam novel yang tidak ditampilkan ke dalam film ditemukan sebanyak tiga penciutan atau pengurangan. Aspek penciutan terjadi karena adanya keterbatasan teknik dan durasi sehingga semua unsur yang ada dalam novel tida dapat dihadirkan dalam film.
Aspek penambahan mengacu pada semua bagian yang sebelumnya tidak ada di dalam novel kemudian ditambahkan di dalam film ditemukan sebanyak tiga Penambahan. Aspek penambahan terjadi karena adanya adanya penafsiran oleh penulis skenario dan sutradara untuk menghadirkan hal-hal yang penting.
Aspek perubahan variasi mengacu pada munculnya perubahan tambahan yang dilakukan pada bagian yang terdapat di dalam novel ketika telah diekranisasi ke dalam film ditemukan sebanyak Lima Perubahan bervariasi. Aspek perubahan variasi terjadi karena novel dan film memiliki media yang berbeda sehingga perubahan-perubahan akan dilakukan sineas dalam menggarap sebuah film





DAFTAR PUSTAKA
Eneste, Pamusuk. 1991. Novel dan Film. Jakarta: Nusa Indah.
Pratista, Himawan. 2008. Memahami Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka.
Sani, Asrul. 1992. Cara Menilai Sebuah Film. Jakarta: Yayasan Citra.
Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sayuti, Suminto. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media.
Suseno WS. 2011. Filmisasi karya sastra Indonesia: kajian ekranisasi pada cerpen dan film “Tentang
Dia”. Artikel. Semarang: program studi bahasa sastra Indonesia, FBS Universitas negeri semarang.
http://bahasfilmbareng.blogspot.com/2008/04/ pengertian- film.html).



Komentar