tugas (1) belajar dan pembelajaran
PRINSIP-PRINSIP BELAJAR, ASAS PEMBELAJARAN, KONSEP
BELAJAR MENURUT ISLAM, DAN KONSEP BELAJAR BEHAVIORISME, KOGNITIF,
KONSTRUKTIVISTIK, DAN HUMANISTIK
LAPORAN BAB
diajukan
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah belajar dan pembelajaran yang
diampu oleh Ade Kusnan Afandi, M. Pd.
oleh
:
1.
Agung Prasetyo
2.
Arwin Tri Astuti
3.
Neni Isnaeni
Kelompok
2
Semester
3A
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS WIRALODRA
2017
MOTO
Agung
Prasetyo : Kalau sudah tiada baru
terasa
Arwin Tri Astuti : Tidak ada yang bisa membuatmu merasa rendah diri
tanpa
persetujuanmu
Neni Isnaeni : Hidup hanya satu kali, lakukan yang bisa dilakukan
sekarang
i
KATA
PENGANTAR
Kami sampaikan syukur kepada Allah SWT yang Maha Esa atas
segala rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan bab
ini, shalawat serta salam kami do’akan semoga selalu tercurah pada Nabi agung
kita Nabi Muhammad SAW.
Laporan bab yang kami susun mengenai prinsip-prinsip
belajar, asas pembelajaran, konsep belajar menurut islam, dan konsep belajar
behaviorisme, kognitif, konstruktivistik, dan humanistik.
Laporan bab ini kami susun dengan
maksimal, dengan
mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan
laporan bab ini, untuk itu tak lupa kami sampaikan banyak terimakasih kepada
dosen pembimbing yang telah memberikan kami kepercayaan untuk menyelesaikan laporan
ini. Semoga laporan ini dapat memenuhi tugas yang diberikan kepada kami.
Indramayu,
Oktober 2017
Penyusun
ii
DAFTAR
ISI
MOTO
.....................................................................................................i
KATA PENGANTAR ........................................................................... ii
DAFTAR ISI .......................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................... 1
1.1. Latar
Belakang ...................................................................... 1
1.2. Rumusan
Masalah ................................................................. 1
1.3. Tujuan
................................................................................... 2
1.4. Manfaat
................................................................................. 2
BAB PRINSIP-PRINSIP
BELAJAR, ASAS PEMBELAJARAN, KONSEP BELAJAR MENURUT ISLAM, DAN
KONSEP BELAJAR BEHAVIORISME, KOGNITIF, KONSTRUKTIVISTIK, DAN HUMANISTIK ................. 2
2.1. Prinsip-prinsip
Belajar............................................................ 3
2.2. Implikasi
Prinsip-prinsip Belajar bagi Siswa.......................... 7
2.3. Implikasi
Prinsip-prinsip Belajar bagi Guru........................... 9
2.4. Asas-asas
Pembelajaran......................................................... 13
2.5. Konsep
Belajar Menurut Islam.............................................. 15
2.6. Konsep
Belajar dan Pembelajaran menurut
beberapa Teori.. 17
BAB III KESIMPULAN .................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................20
iii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Seorang pendidik hendaknya memiliki
suatu prinsip dalam melakukan proses pembelajaran. Untuk itu pendidik dituntut
untuk memahami prinsip-prinsip belajar agar terwujudnya suatu proses
pembelajaran yang kondusif, nyaman, dan bisa berkenan dalam hati para siswa
yang diajarnya. Dalam pembelajaran tentunya terdapat asas serta prinsip-prinsip
belajar yang merupakan landasan berpikir,landasan berpijak, dan sumber motivasi
agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik antara pendidik dengan
peserta didik. Dari uraian diatas kita dapat menarik benang merahnya
bahwa pendidikan itu adalah suatu kebutuhan yang akan menjamin kelangsungan
hidup bagi setiap manusia. Hal ini telah terbukti dengan adanya proses dari
pendidikan itu sendiri dimana pada masa sekarang ini, seseorang yang
berpendidikan akan memegang peranan penting dalam setiap aspek kehidupan dalam
masyarakat.
Nah, untuk mendukung hal tersebut tentunya diperlukan
metode-metode ataupun cara-cara yang akan membuat peserta didik mampu menyerap
dan memahami materi apa yang akan kita sampaikan yang nantinya kapasitas kita
tentu saja akan menjadi seorang pendidik. Untuk belajar serta pembelajaran,
kita perlu mengetahui bebearapa konsep belajar dan pembelajaran agar tidak
salah arah dalam melakukan belajar dan pembelajaran tersebut. Dunia
pendidikan juga tak lepas dari tuntutan norma agama Islam, sehingga pendidikan
mampu menjadikan siswa untuk tetap pada norma agama Islam.
1.2. Rumusan Masalah
A. Apa
saja yang termasuk prinsip belajar?
B. Apa
saja yang termasuk implikasi prisip-prisip belajar bagi siswa dan bagi guru?
C. Apa
saja yang termasuk asas pembelajaran?
D. Apa
saja dan jelaskan konsep belajar dan pembelajaran menurut pandangan agama
Islam?
E. Jelaskan
pengertian dari beberapa konsep belajar dan pembelajaran menurut beberapa teori!
1.3. Tujuan
A. Mampu
menyebutkan dan menjelaskan prinsip-prinsip belajar
B. Mampu
menyebutkan dan menjelaskan implikasi
prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan bagi guru
C. Apa
saja yang termasuk asas pembelajaran
D. Mampu
menyebutkan dan menjelaskan konsep belajar menurut pandangan Islam
E. Mampu
menjelaskan pengertian dari beberapa konsep belajar dan pembelajaran menurut
beberapa teori
1.4. Manfaat
A. Adapun
manfaat secara praktis dari laporan bab ini untuk memberikan ilmu pengetahuan
tentang masalah dalam belajar.
B. Adapun
manfaat secara teoretis dari laporan bab ini untuk memberikan ilmu pengetahuan
tentang beberapa masalah yang dihadapi dalam dunia pendidikan khususnyapara
pendidik mampu dan mengerti akan tugasnya sebagai seorang pendidik yang baik
dalam menyampaikan materi-materi ataupun bahan-bahan yang akan di
transformasikan kepada siswanya dengan memperhatikan beberapa prinsip yang akan
membantu dalam proses belajar mengajar.
BAB II
PRINSIP-PRINSI BELAJAR,
ASAS PEMBELAJARAN, KONSEP BELAJAR MENURUT ISLAM, DAN KONSEP BELAJAR
BEHAVIORISME, KOGNITIF, KONSTRUKTIVISTIK, DAN HUMANISTIK
2.1. Prinsip-prinsip
Belajar
Dalam
proses pembelajaran, guru dituntut untuk mampu mengembangkan potensi-potensi
peserta didik secara optimal. Banyak teori dan prinsip-prinsip belajar yang
dikemukakan oleh para ahli yang satu dengan yang lain memiliki banyak persamaan
dan juga perbedaan. Agar aktivitas yang
dilakukan guru dalam proses pembelajaran terarah pada upaya peningkatan potensi
siswa secara komprehensip, maka pembelajaran harus dikembangkan sesuai dengan
prinsip-prinsip yang benar, yang bertolak dari kebutuhan internal siswa untuk
belajar.
A. Prinsip
Perhatian dan Motivasi
Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam
kegiatan belajar. Dari kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap
bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi belajar (Gage n Berliner,
1984: 335 ). Perhatian terhadap belajar akan timbul pada siswa apabila bahan
pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Apabila
bahan pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk
belajar lebih Ianjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan
membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya. Apabila perhatian alami ini tidak
ada maka siswa perlu dibangkitkan perhatiannya.
Di samping perhatian, motivasi mempunyai peranan
yang sangat penting dalam kegiatan belajar. Motivasi adalah tenaga yang
menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Demikian menurut H.L. Petri
(Petri, Herbet L, 1986: 3). Motivasi dapat merupakan tujuan dan alat dalam
pembelajaran. Sebagai tujuan, motivasi merupakan salah satu tujuan dalam
mengajar. Guru berharap bahwa siswa tertarik dalam kegiatan intelektual dan
estetik sampai kegiatan belajar berakhir. Motivasi mempunyai kaitan yang erat
dengan minat. Siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu
cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasinya untuk
mempelajari bidang studi tersebut. Motivasi juga dipengaruhi oleh nilai-nilai
yang dianggap penting dalan, kehidupannya. Perubahan nilai-nilai yang dianut
akan mengubah tingkah laku manusia dan motivasinya. Karenanya, bahan-bahan
pelajaran yang disajikan hendaknya disesuaikan dengan minat siswa dan tidak
bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Sikap siswa, seperti haInya motif menimbulkan dan mengarahkan aktivitasnya,
karena kewajiban bagi guru untuk bisa menanamkan sikap positif pada diri siswa
terhadap mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.
Insentif, suatu hadiah yang diharapkan diperoleh
sudah melakukan kegiatan, dapat menimbulkan motif. Hal ini merupakan dasar
teori belajar B.F. Skinner dengan operant conditioning-nya’ (Hal ini dibkarakan
lebih lanjut dalam prinsip balikan dan penguatan). Motivasi dapat bersifat internal, artinya datang dari dirinya sendiri,
dapat juga bersifat eksternal yakni datang dari orang lain, dari
guru, orang tua, teman dan sebagainya. Memunculkan
perhatian seseorang pada suatu objek dapat diakibatkan oleh dua hal.
Pertama, orang itu merasa bahwa objek tersebut mempunyai kaitan dengan dirinya
umpamanya dengan kebutuhan, cita cita, pengalaman, bakat, minat.
Kedua, Objek itu sendiri dipandang memiliki sesuatu yang lain dari yang lain,
atau yang lain dari yang biasa, lain dari yang pada umumnya muncul.
B.
Prinsip Keaktifan
Kecendrungan
psikologi dewasa ini menganggap bahwa anak adalah makhluk yang aktif. Anak
mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemampuan dan aspirasi
sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa
dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif
mengalami sendri. Mon Dewey misalnya
mengemukakan, bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa
untuk dirmya sendiri. maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri. Guru
sekedar pembimbing dan pengarah (John Dewy 1916. dalam Dak ks, 1937:3 1).
Dalam setiap
proses belajar, siswa selalu menampakkan keaktifan. Keaktifan itu beraneka ragam bentuknya. Mulai
dari kegiatan fisik sampai kegiatan psikis. Kegiatan
fisik bisa berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih
keterampilan-keterampilan, dan sebagainya. Contoh kegiatan psikis misaInya
menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang
dihadapi, membandingkan satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan basil
percobaan, dan kegiatan psikis yang lain.
C.
Prinsip Keterlibatan
Langsung/Berpengalaman
Di muka
telah dijelaskan bahwa belajar haruslah dilakukan sendiri oleh siswa yang,
belajar adalah mengalami, belajar tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain.
Edgar Dale dalam penggolongan pengalaman belajar yang dituangkan dalam kerueut
pengalamannya mengemukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar
melalui pengalaman langsung. Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa
tidak sekadar mengamati secara langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat
langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab terhadap hasilnya. Sebagai contoh seseorang yang belajar membuat tempe, yang
paling baik apabila ia terlihat secara langsung dalam perbuatan (direct performance), bukan sekadar melihat bagaimana
orang menikmati tempe (demonstrating), apalagi sekadar mendengar orang
bercerita bagaimana cara pembuatan tempe (telling).
Pentingnya
keterlibatan langsung dalam belajar dikemukakan oleh John Dewey dengan “learning
by doing”-nya. Belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan langsung. Belajar
harus dilakukan oleh siswa secara aktif, baik individual maupun kelompok,
dengan cara memecahkan masalah (prolem solving). Guru bertindak sebagai
pembimbing dan fasilitator.
Keterlibatan
siswa di dalam belajar jangan diartikan keterlibatan fisik semata, namun lebih
dari itu terutama adalah keterlibatan mental emosional, keterlibatan dengan
kegiatan kognitif dalam pencapaian dan perolehan pengetahuan, dalam penghayatan
dan intemalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilat, dan juga pada
saat mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan.
D.
Prinsip Pengulangan
Prinsip
belajar yang menekankan perlunya pengulangan yang dikemukakan oleh teori
Psikologi Dava. Menurut teori ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada
pada manusia yang terdiri atas daya mengamat, menanggap, mengingat. mengkhayal,
merasakan. berpikir. dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya
tersebut akan berkembang. Seperti halnya pisau yang selalu diasah akan menjadi
tajam, maka daya-daya yang dilatih dengan pengadaan pengulangan-pengulangan
akan menjadi sempuma.
Banyak tingkah
laku manusia yang terjadi karena kondisi, misalnya siswa berbaris masuk ke
kelas karena mendengar bunyi lonceng, kendaraan berhenti ketika lampu Ialu lintas berwarna merah. Menurut teori ini
perilaku individu dapat dikondisikan, dan belajar merupakan upaya untuk
mengkondisikan suatu perilaku atau respons terhadap sesuatu. Mengajar adalah
membentuk kebiasaan, mengulang-ulang sesuatu perbuatan sehingga menjadi suatu
kebiasaan dan pembiasaan tidak perlu selalu oleh stimulus yang sesungguhnya,
tetapi dapat juga oleh stimulus penyerta.
E.
Prinsip Tantangan
Teori Medan (Field Theory)
dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa siswa dalam situasi belajar dalam suatu
medan atau lapangan psikologi. Dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu
tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan yaitu mempelajari
bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu yaitu dengan
mempelajari bahan belajar tersebut. Apabila hambatan itu telah diatasi, artinya
tujuan belajar telah dicapai, maka ia akan masuk dalam medan baru dan tujuan
baru, demikian seterusnya agar pada anak timbul motif yang kuat untuk mengatasi
hambatan dengan baik maka bahan belajar haruslah menantang.
F. Prinsip
Balikan dan Penguatan
Prinsip
belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama ditekankan oleh
teori belajar Operant Conditioning dari
B.F.Skinner. Kalau pada teori conditioning
yang diberi kondisi adalah stimulusnya, maka pada operant conditioning yang diperkuat adalah responsnya. Kunsi dari
teori belajar ini adalah law of effect –nya Thomdike. Siswa akan belajar lebih
bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik. Hail, apalagi
hasil yang baik, akan merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik
bagi usaha belajar selanjutnya. Namun dorongan belajar itu menurut B.F.Skinner
tidak saja oleh penguatan yang menyenangkan tetapi juga yang tidak
menyenangkan. Atau dengan kata lain penguatan positif maupun negative dapat
memperkuat belajar (Gage dan Berliner, 1984:272).
G. Prinsip
Perbedaan Individual
Siswa
merupakan individual yang unik artinya tidak ada dua orang siswa yang sama
persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lain. Perbedaan itu
terdapat pada karakteristik psikis, kepribadian, dan sifat-sifatnya. Perbedaan
individual ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya,
perbedaan individu perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran.
Sistem
klasikal yang dilakukan di sekolah kita kurang memperhatikan masalah perbedaan
individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan melihat siswa
sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama,
demikian pula dengan pengetahuannya.
2.2. Implikasi
Prinsip-prinsip Belajar bagi Siswa
Siswa
sebagai “Primus motor” (motor utama) dalam kegiatan pembelajaran, dengan alasan
apa pun tidak dapat mengabaikan begitu saja adanya prinsip-prinsip belajar.
Justru para siswa akan berhasil dalam pembelajaran, jika mereka menyadari
implikasi prinsip-prinsip belajar terhadap diri mereka.
A. Perhatian
dan Motivasi
Siswa
dituntut untuk memberikan perhatian terhadap semua rangsangan yang mengarah kea
rah pencapaian tujuan belajar. Adanya tuntutan untuk selalu memberikan
perhatian ini, menyebabkan siswa harus membangkitkan perhatiannya kepada segala
pesan yang dipelajarannya. Pesan-pesan yang menjadi isi pembelajaran seringkali
dalam bentuk rangsangan suara, warna, bentuk, gerak, dan rangsangan lain yang
dapatdiindra. Dengan demikian siswa diharapkan selalu melatih indranya untuk
memperhatikan rangsangan yang muncul dalam proses pembelajaran.
Peningkatan/pengembangan minat ini merupakan salah satu factor yang
mempengaruhi motivasi (Gage dan Berliner, 1984:373).
B. Keaktifan
Sebagai
“Primus motor” dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan belajar, siswa
dituntut untuk selalu aktif mmproses dan mengolah perolehan belajarnya. Untuk
dapat memproses dan mengolah perolehan belajarnya secara efektif, pembelajaran
dituntut untuk aktif secara fisik, intelektual, dan emosional. Implikasi
prinsip keaktifan bagi siswa berwujud perilaku-perilaku seperti mencari sumber
informasi yang dibutuhkan, menganalis hasil percobaan, ingin tahu hasil dari
suatu hasil reaksi kimia, membuat karya tulis, membuat kliping, dan perilaku
sejenis lainnya. Implikasi prinsip keaktifan bagi siswa lebih lanjut menuntut
keterlibatan langsung siswa dalam proses pembelajaran.
C. Keterlibatan
Langsung/Berpengalaman
Hal
apa pun yang dipelajari siswa, maka ia harus mempelajarinya sendiri.Tidak ada
seorang pun dapat melakukan kegiatan belajar tersebut untuknya (Davies,
1987:32). Pernyataan ini, secara mutlak menuntut adanya keterlibatan langsung
dari setiap siswa dalam kegiatan belajar pembelajaran.
D. Pengulangan
Penguasaan
secara penuh dari setiap langkah memungkinkan belajar secara keseluruhan lebih
berarti (Davies, 1987:32), Dari pernyataan inilah pengulangan masih diperlukan
dalam kegiatan pembelajaran. Implikasi adanya prinsip pengulangan bagi siswa
adanya kesadaran siswa untuk bersedia mengerjakan latihan-latihan yang berulang
untuk bersedia mengerjakan latihan-latihan yang berulang untuk satu macam
permasalahan. Dengan kesadaran ini diharapkan siswa tidak merasa bosan dalam
melakukan pengulangan.
E. Tantangan
Prinsip
belajar ini bersesuain dengan pernyataan bahwa apabila siswa diberikan tanggung
jawab untuk mempelajari sendiri, maka lebih termotivasi untuk belajar, ia akan
belajar dan mengingat secara lebih baik ( Davies, 1987:32).
F. Balikan
dan Penguatan
Siswa
selalu membutuhkan suatu kepastian dari kegiatan yang dilakukan, apakah benar
atau salah? dengan demikian siswa akan selalu memiliki pengetahuan tentang
hasil, yang sekaligus merupakan penguat bagi dirinya sendiri. Seorang siswa
belajar lebih banyak bilamana setiap langkah sefera diberikan penguatan
(Davies, 1987:32).
G. Perbedaan
Individual
Setiap siswa
memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang berbeda satu dengan yang
lainnya.Karena hal inilah, setiap siswa belajar menurut tempo (kecepatan)nya
sendiri dan untuk setiap kelompok umur terdapat variasi kecepatan belajar
(Davies, 1987:32).
2.3. Implikasi
Prinsip-prinsip Belajar bagi Guru
A. Perhatian
dan Motivasi
Guru sejak merencanakan kegiatan
pembelajarannya sudah memikirkan perilakunya terhadap siswa sehingga dapat
menarik perhatian dan menimbulkan motivasi siswa dan tidak berhenti pada
rencana pembelajarannya dalam pelaksanaan kegiatan pembelajarannya. Implikasi
prinsip perhatian bagi guru tertampak pada perilaku-perilaku sebagai berikut:
1) Guru
menggunakan metode secara bervariasi.
2) Guru
menggunakan media sesuai dengan tujuan belajar dan materi yang diajarkan.
3) Guru menggunakan gaya bahasa yang tidak
monoton
Guru mengemukakan
pertanyaan-pertanyaan membimbing Sedangkan implikasi prinsip motivasi bagi guru
tertampak pada perilaku-perilaku yang diantarannya adalah:
1)
Memilih bahan ajar sesuai minat
siswa
2)
Menggunakan metode dan teknik
mengajar yang disukai siswa
3)
Mengoreksi sesegera mungkin
pekerjaan siswa dan sesegera mungkin memberitahukan hasilnya kepada siswa
4)
Memberikan pujian verbal atau
non-verbal terhadap siswa yang memberikan respon terhadap pertanyaan yang
diberikan
5)
Memberikan nilai guna dari pelajaran
yang sedang dipelajari siswa
(direction question)
B.
Keaktifan
Para guru memberikan kesempatan belajar kepada para
siswa, memberikan peluang dilaksanakannya implikasi prinsip keaktifan bagi guru
secara optimal.
Maka guru diantaranya dapat melaksanakan perilaku-perilaku
berikut:
1)
Menggunakan multimetode dan
multimedia,
2)
Memberikan tugas secara individual
dan kelompok,
3)
Memberikan kesempatan kepada siswa
melaksanakan eksprimen dan kelompok kecil (beranggota tidak lebih dari tiga
orang),
4)
Memberikan tugas untuk membaca bahan
belajar, mencatat hal-hal yang kurang jelas, serta
5)
Mengadakan tanya jawab dan diskusi.
C.
Keterlibatan Langsung/Berpengalaman
Guru harus menyadari bahwa keaktifan membutuhkan
keterlibatan langsung siwa dalam kegiatan pembelajaran. Perilaku sebagai implikasi
prinsip keterlibatan langsung/berpengalaman diantaranya adalah:
1)
Merancang kegiatan pembelajaran yang
lebih banyak pada pembelajaran individual dan kelompok kecil
2)
Mementingkan eksperimen langsung
oleh siswa dibandingkan dengan demonstrasi
3)
Menggunakan media yang langsung
digunakan oleh siswa
4)
Memberikan tugas kepada siswa untuk
mempraktekan gerakan pesikomotorik yang dicontohkan
5)
Melibatkan siswa mencari
informasi/pesan dari sumber informasi diluar kelas atau luar kelas
6)
Melibatkan siswa dalam merangkum
atau menyiompulkan informasi pesan pembelajaran.
D.
Pengulangan
Implikasi prinsip pengulangan bagi
guru adalah mampu memilihkan antara kegiatan pembelajaran yang berisi pesan
yang membutukan pengulangan dengan yang tidak membutukan pengulangan. Perilaku
guru yang merupakan implikasi prinsip pengulangan diantaranya adalah:
1) Merancang pelaksanaan
pengulangan,
2) Mengembangkan/merumuskan
soal-soal latihan,
3) Mengembangkan
petunjuk kegiatan psikomotorik yang harus diulang,
4) Mengembangkan alat
evaluasi kegiatan pengulangan, dan
5) Membuat kegiatan
pengulangan yang bervariasi.
E.
Tantangan
Apabila guru mengingatkan siswa
selalu berusaha mencapai tujuan, maka guru harus memberikan tantangan pada
siswa dalam kegiatan pembelajarannya. Perilaku guru yang merupakan implikasi
prinsip tantangan diantaranya adalah:
1)
Merencanakan dan mengelola kegiatan
eksperimen yang memberikan kesempatan pada siswa untuk melakukannya secara
individual atau dalam kelompok kecil (3-4 orang).
2)
Memberikan tugas kepada siswa
memecahkan masalah yang membutuhkan informasi dari orang lain diluar sekolah
sebagai sumber informasi.
3)
Menugaskan kepada siswa untuk
menyimpulkan isi pelajaran yang selesai disajikan.
4)
Mengembangkan bahan pembelajaran
(teks, hand out, modul, dan yang lain).
5)
Membimbing siswa untuk menemukan
fakta, konsep, prinsip, dan generalisasi sendiri.
6)
Guru merancang dan mengelola
kegiatan diskusi untuk menyelenggarakan masalah-masalah yang disajikan dalam
topik diskusi
F.
Balikan dan Penguatan
Balikan dapat diberiksn secara lisan maupun tertulis,
baik secara individual, ataupun kelompok klasikal. Implikasi prinsip balikan
dan penguatan bagi guru, berwujud perilaku-perilaku yang diantarannya adalah:
1)
Memberitahukan jawaban yang benar
setiap kali mengajukan pertanyaan yang telah dijawab siswa secara benar ataupun
salah.
2)
Mengoreksi pembahasan pekerjaan
rumah yang diberikan kepada siswa pada waktu yang ditentukan.
3)
Memberikan catatan-catatan pada
hasil kerja siswa (berupa makalah, laporan, kliping pekerjaan rumah),
berdasarkan hasil koreksi guru terhadap hasil kerja pembelajaran.
4)
Membagikan lembar jawaban tes
pelajaran yang telah dikoreksi oleh guru, disertai skor dan catatan-catatan
bagi pebelajar.
5)
Mengumumkan atau mengkonfirmasikan
peringkat yang diraih oleh siswa berdasarkan skor yang dicapai dalam tes.
6)
Memberikan anggukan atau acungkan
jempol atau isyarat lain kepada siswa yang menjawab dengan benar pertanyaan
yang disajikan guru.
7)
Memberikan hadiah/ganjaran kepada
siswa yang berhasil menyelesaikan tugas.
G. Perbedaan
Individual
Setiap guru tentunya harus menyadari bahwa menghadapi
30 siswa dalam satu kelas, berarti menghadapi 30 macam keunikan atau
karakteristik. Implikasi perinsip perbedaan individual bagi guru berwujud
perilaku-perilaku yang diantaranya adalah:
1)
menentukan penggunaan berbagai
metode yang diharapkan dapat melayani kebutuhan siswa sesuai karakteristiknya,
2)
merancang pemanfaatan berbagai media
dalam menyajikan pesan pembelajaran,
3)
mengenali karakteristik setiap siswa
sehingga dapat menentukan perlakuan pembelajaran yang tepat bagi siswa yang
bersangkutan, dan
4)
memberikan remediasi ataupun
pertanyaan kepada siswa yang membutuhkan
Untuk memperjelas implikasi
prinsip-prinsip belajar bagi guru, berikut akan diberikan contoh identifikasi prinsip-prinsip
belajar yang tampak padakegiatan guru dalam deskripsi kegiatan guru dari suatu
kegiatan pembelajaran di SLTA.
2.4. Asas-asas Pembelajaran
Pada bagian ini diuraikan 14 asas
pembelajaran yang dapat digunakan sebagai dasar untuk pengembangkan program
pembelajaran inovatif. Ke empat belas asas tersebut adalah:
A.
Lima prinsip dasar dalam pemenuhan
hak anak: (a) non-diskriminasi, (b) kepentingan terbaik bagi anak (best
interest of the child), (c) hak untuk hidup dan berkembang (righ to life,
continuity of life and to develop), (d) hak atas perlindungan (right to protection),
(e) penghargaan terhadap pendapat anak (respect for the opinions of children).
B.
Belajar bukanlah konsekuensi
otomatis dari penuangan informasi ke dalam benak siswa.
C.
Belajar memerlukan keterlibatan
mental dan kerja siswa sendiri.
D.
Yang bisa membuahkan hasil kerja
belajar yang langgeng hanyalah kegiatan belajar aktif.
E.
Untuk bisa mempelajari sesuatu
dengan baik, kita perlu mendengar, melihat membahasnya dengan orang lain.
F.
Aktivitas pembelajaran pada diri
siswa bercirikan: (a) yang saya dengar, saya lupa; (b) yang saya dengar dan
lihat, saya sedikit ingat; (c) yang saya dengar, lihat, dan pertanyakan atau
diskusikan dengan orang lain, saya mulai pahami; (d) yang saya dengar, lihat,
bahas, dan terapkan, saya dapatkan pengetahuan dan keterampilan; dan (e) yang
saya ajarkan kepada orang lain, saya kuasai.
G.
John Holt (1967) proses belajar akan
meningkatkan jika siswa diminta untuk melakukan hal-hal: (a) mengemukakan
kembali informasi dengan kata-kata sendiri, (b) memberikan contoh, (c)
mengenalinya dalam bermacam bentuk dan situasi, (d) melihat kaitan antara
informasi itu dengan fakta atau gagasan lain, (e) menggunakannya dengan beragam
cara, (f) memprediksikan sejumlah konsekuensinya, (g) menyebutkan lawan atau
kebalikannya.
H.
Ada konteks yang melingkupi siswa dalam
belajar: (a) tujuan, (b) isi materi, (c) sumber belajar (sumber belajar
bagaimanakah yang dapat dimanfaatkan), (d) target siswa (siapa yang akan
belajar), (e) guru, (f) strategi pembelajaran, (g) hasil (bagaimana hasil
pembelajaran akan diukur), (h) kematangan (apakah siswa telah siap dengan
hadirnya sebuah konsep atau pengetahuan), (i) lingkungan (dalam lingkungan yang
bagaimana siswa belajar).
I.
Kata kunci pembelajaran agar
bermakna: (a) real-world learning, (b) mengutamakan pengalaman nyata, (c) berpikir
tingkat tinggi, (d) berpusat pada siswa, (e) siswa aktif, kritis dan kreatif,
(f) pengetahuan bermakna dalam kehidupan, (g) dekat dengan kehidupan nyata, (h)
perubahan perilaku, (i) siswa praktik, bukan menghafal, (j) learning, bukan
teaching, (k) pendidikan bukan pengajaran, (l) pembentukan manusia, (m)
memecahkan masalah, (n) siswa acting, guru mengarahkan, (o) hasil belajar
diukur dengan berbagai cara bukan hanya dengan tes.
J.
Pembelajaran yang memperhatikan
dimensi auditoris dan visual, pesan yang diberikan akan menjadi lebih kuat.
K.
Otak tidak sekadar menerima
informasi, tetapi juga mengolahnya melalui membahas informasi dengan orang lain
dan juga mengajukan pertanyaan tentang hal yang dibahas.
L.
Otak kita perlu mengaitkan antara
apa yang diajarkan kepada kita dengan apa yang telah kita ketahui dan dengan
cara kita berpikir.
M.
Proses belajar harus mengakomodasi
tipe-tipe belajar siswa (auditori, visual, kinestetik)
N.
Resiprositas (kebutuhan mendalam
manusia untuk merespon orang lain dan untuk bekerja sama) merupakan sumber
motivasi yang bia dimanfaatkan untuk menstimulasi kegiatan belajar.
2.5. Konsep Belajar menurut
Islam
Konsep pendidikan Islam yaitu suatu
ide atau gagasan untuk menciptakan manusia yang baik dan bertakwa yang
menyembah Allah dalam arti yang sebenarnya, yang membangun struktur pribadinya
sesuai dengan syariah Islam serta melaksanakan segenap aktifitas kesehariannya
sebagai wujud ketundukannya pada Tuhan.
Penyelenggaraan pendidikan dalam
lintasan sejarah Islam telah dimulai oleh Rasulullah saw dan para Khulafa
ar-Rasyidin. Rasulullah saw telah menjadikan mengajar baca-tulis bagi 10 orang
penduduk Madinah sebagai syarat pembebasan bagi setiap tawanan perang Badar.
Pada masa itu nabi Muhammad senantiasa menanamkan kesadaran pada sahabat dan
pengikutnya akan urgensi ilmu dan selalu mendorong umat untuk senantiasa
mencari ilmu.
Seperti yang terdapat dalam wahyu
yang pertama turun kepada baginda Rasulullah SAW yakni Al-‘Alaq ayat 1-5. Ayat
ini menjadi bukti bahwa Al-Qur’an memandang bahwa aktivitas belajar merupakan
sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Kegiatan belajar dapat
berupa menyampaikan, menelaah, mencari, dan mengkaji, serta meniliti. Secara
faktual, begitu pentingnya ilmu pengetahuan sehingga mewajibkan kepada umat
dalam menuntut ilmu. Banyak hadits yang menjelaskan bahwa pentingnya menuntut
ilmu. Salah satu hadits tersebut yang artinya “Carilah ilmu sampai negeri
Cina”.
A.
Arti Penting Belajar menurut
Al-Qur’an
Perlu diketahui bahwa setiap apa yang
dikerjakan, pasti dibaliknya terkandung hikmah atau sesuatu yang penting bagi
manusia. Beberapa hal penting yang berkaitan dengan belajar antara lain:
1. Bahwa
orang yang belajar akan mendapatkan ilmu yang dapat digunakan untuk memecahkan
segala masalah yang dihadapinya.
2. Manusia
dapat mengetahui dan memahami apa yang dilakukannya karena Allah sangat
membenci orang yang tidak memiliki
pengetahuan akan apa
yang dilakukannya karena setiap apa yang diperbuat akan dimintai
pertanggungjawabannya.
3. Dengan
ilmu yang dimilikinya, mampu mengangkat derajatnya di mata Allah. Belajar
merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang
dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan
perilakunya.
B. Konsep
Belajar –Pembelajaran yang Islami
1. Proses
belajar mengajar dilandasi dengan kewajiban yang dikaitkan dengan niat ibadah
kepada Allah.
2. Konsep
strategi belajar mengajar memerlukan kreativitas baik meteologi maupun desain
pembelajaran.
3. Mendidik
dengan ketauladanan yang baik
4. Membutuhkan
pembiasaan-pembiasaan untuk mencapai hasil yang maksimal
5. Mengadakan
evaluasi
6. Dalam
proses pembelajaran belajar-mengajar harus diawali dan diakhiri dengan do’a.
2.6. Konsep Belajar dan
Pembelajaran menurut beberapa Teori
1. Konsep
Belajar dan Pembelajaran Behavioristik
Menurut teori Behaviorstik belajar
adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara
stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang
dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang
baruu sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap
telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan tingkah lakunya.
Sebagai contoh, anak belum dapat berhitung perkalian. Walaupun ia sudah
berusaha giat, dan gurunyapun sudah mengajarkannya dengan tekun, namun jika
anak tersebut belum dapat mempraktekkan perhitungan perkalian, maka ia belum dianggap belajar. Karena ia belum
dapat menunjukkan perubahan perilaku sebagai hasil belajar.
2. Konsep
Belajar dan Pembelajaran Kognitif
Teori
belajar kognitif berbeda dengan teori belajar behavioristik. Teori belajar
kognitif lebih mementingkn proses belajar dari hahsil belajarnya. Para penganut
aliran kognitif mengatakan bahwa belajar tidak sekadar melibatkan hubungan
stimulus dan respon. Tidak seperti model belajar behavioristik yang mempelajari
proses belajar hanya sebagai hubungan stimulus-respon, model belajar kognitis
merupakan bentuk teori belajar yang sering disebut sebagai model perseptual.
Model belajar kognitif mengatakan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya
tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Belajar merupakan
perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu terlihat sebagai tingkah
laku yang nampak.
3.
Konsep Belajar dan
Pembelajaran Konstruktivistik
Secara
konseptual, proses belajar jika dipandang dari pendekatan kognitif, bukan
sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri
siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui
proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutakhiran struktur
kognitifnya.
4.
Konsep Belajar dan
Pembelajaran Humanistik
Selain teori belajar behavioristik dan
teori kognitif, teori belajar humanistik juga penting untuk dipahami. Menurut
teori humanistik, proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan
memanusiakan manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, teori belajar humanistik
sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati kajian filsafat, teori kepribadian,
dan psikoterapi, daripada bidang kajian psikologi belajar. Teori humanistik
sangat mementingkan isi yang dipelajari daripada proses belajar itu sendiri.
Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan untuk
membentuk manusia yang dicita-citakan serta tentang proses belajar dalam
bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada
pengertian belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada pemahaman
tentang proses belajar sebagaimana apa adanya, seperti yang selama ini dikaji
oleh teori-teori belajar lainnya.
BAB III
PENUTUP
3.1.
Simpulan
Dalam
laporan bab ini terdapat simpulan bahwa prinsip-prinsip belajar dan asas
pembelajaran itu merupakan landasan berpikir, acuan dalam belajar mengajar dan
sumber motivasi agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan efektif
antara siswa dengan guru. Adapun prinsip belajar diantaranya yaitu perhatian
dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan,
tantangan, balik dan penguatan, dan perbedaan individu.
3.2.
Saran
Agar
pendidikan ini menjadi lebih baik lagi, para siswa harus meningkatkan belajar
dan aktif dalam pembelajaran di kelas dan menjadi siswa yang inovatif dengan
bimbingan seorang guru yang menggunakan metode dan prinsip-prinsip belajar yang
baik ketika pembelajaran berlangsung, agar siswa merasa nyaman ketika belajar dalam
kelas maupun di rumah. Untuk itu guru harus mempunyai cara yang menarik dan
menyenangkan agar siswa tidak jenuh saat belajar di kelas, dan semoga laporan
bab ini dapat menjadi referensi bagi penulis selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Dimyati dan
Mudjiono. (2009). Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Budiningsih, C.
Asri. (2015). Belajar dan Pembelajaran.
Jakarta: Rineka Cipta
Aunurrahman.
(2009). Belajar dan Pembelajaran. Bandung:
Alfabeta

Komentar
Posting Komentar